Memuat Gerakan Indonesia Makmur
Gerakan Indonesia Makmur
Warta

Wawonii Untuk Merawat Perjuangan

Handrianus Dabi DedeHandrianus Dabi Dede
4 September 2026

Di balik penolakan terhadap ekspansi industri ekstraktif, terdapat hubungan yang jauh lebih kuat antara masyarakat, kebudayaan, sejarah, tanah, dan ruang hidup yang telah diwariskan lintas generasi. Kisah panjang perjuangan masyarakat Wawonii dalam lima gelombang generasi merupakan salah satu pelajaran sejarah yang sangat berharga. Diskusi SERAI (Serap Aspirasi) bertema “Jejaring di Pulau Wawonii” mempertemukan Gerakan Indonesia Makmur (GIM) dengan sejumlah warga merangkap aktivis masyarakat Wawonii (02/09/2026). 

SERAI ini menjadi ruang untuk mendengarkan secara langsung pengalaman masyarakat dalam mempertahankan ruang hidup sekaligus memahami bagaimana sebuah gerakan sosial dapat bertahan menghadapi tekanan ekonomi, politik, dan kekuasaan. Bagi GIM, pengalaman tersebut bukan hanya kisah keberhasilan, tetapi sumber pengetahuan untuk memahami bagaimana gerakan sosial tumbuh, bertahan, dan membangun kekuatannya. 

Diskusi dibuka dengan pengantar dari Mario Valendo, perwakilan GIM, yang menjelaskan bahwa keterikatan pada Wawonii bermula dari riset pada Oktober 2023, ketika perlawanan warga terhadap tambang begitu memanas, dan hingga hari ini semangat itu terus bertahan. “Sangat jarang sekali ada gerakan sosial yang berhasil memenangkan pertarungan seperti ini,” ujar Mario. Sebagai gerakan masyarakat yang dalam tahap mencari jati diri, GIM merasa perlu belajar langsung dari warga Wawonii untuk menuntun arah gerakannya di bidang sosial, ekonomi, maupun politik. 

Selama dua jam diskusi ini berlangsung, Lukas Benevides (Bene) sebagai perwakilan GIM memoderatori jalannya diskusi tersebut. Dalam pengantar diskusi, Bene menegaskan bahwa potret social movement yang melawan dan menang terhadap perusahaan besar perlu didokumentasikan sebagai model perjuangan yang bisa dipelajari oleh berbagai gerakan sosial lainnya. 

Perjuangan Panjang

Pemaparan awal oleh Wilman, warga Wawonii yang telah terlibat dalam perjuangan sejak tahun 2016, menceritakan bahwa perlawanan warga Wawonii terhadap industri ekstraktif bukan baru mulai. Perlawanan warga lokal dalam mempertahankan tanahnya telah berlangsung sejak tahun 2000-an dengan lima gelombang generasi pejuang. 

Berbagai perusahaan yang pernah datang ke Wawonii menghadapi penolakan masyarakat. Dalam lima gelombang kedatangan perusahaan, tahun 2019 menjadi salah satu fase penting. Sebanyak 29 warga mengalami kriminalisasi dan 23 orang ditangkap. Namun, kriminalisasi tersebut tidak menghentikan gerakan. Warga lain secara bergotong royong tetap melanjutkan perjuangan. 

Salah satu hal yang paling kuat dari cerita masyarakat Wawonii adalah cara mereka memandang tanah. Tanah tidak semata sebagai aset ekonomi atau komoditas yang dapat diperjualbelikan. Tanah adalah ruang hidup, tempat bekerja, tempat membangun hubungan sosial, sekaligus bagian dari identitas dan kebudayaan masyarakat. Sesederhana memaknai, misalnya pohon kelapa, tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi pohon kelapa juga memiliki makna adat dan budaya. Dalam tradisi masyarakat Wawonii, 20 pohon kelapa menjadi bagian dari mahar untuk melamar seorang perempuan Wawonii.

Titin Shalsadilah, orang muda dan aktivis lain dari Wawonii, menambahkan bahwa kebun juga dipandang sebagai tempat untuk menenangkan diri dan menjaga hubungan manusia dengan alam. Gambaran sederhananya, ketika seseorang menanam jambu atau kelapa dan merawatnya, terdapat semacam hubungan timbal-balik. Hubungan tersebut terucap dalam seruan, “ketika kamu saya rawat, kamu harus merawat saya di masa depan,” ujar Titin. Karena itu, kehilangan tanah bukan sekedar kehilangan lahan, tetapi kehilangan sesuatu yang memiliki dimensi emosional, sosial, dan kultural. 

Aan, aktivis lokal dan warga Wawonii lainnya, mengungkapkan bahwa perlawanan yang panjang sering memunculkan tantangan berupa konflik horizontal antar warga. Pada tahun 2019, perusahaan tidak hanya datang dengan modal ekonomi, tetapi juga membawa berbagai harapan dan janji yang disosialisasikan. Sebagian warga yang semula mempertahankan lahannya, akhirnya mulai melepaskan. Konflik kemudian berkembang karena sosialisasi tersebut dilakukan melalui hubungan keluarga dan antar kampung. Selain itu, tekanan terhadap tokoh-tokoh kunci menjadi cara masuk korporasi untuk menguasai dan membungkam gerakan perjuangan masyarakat. 

Namun, pengalaman Wawonii kemudian memperlihatkan perubahan penting. Gerakan yang sebelumnya memiliki tokoh-tokoh dominan, secara perlahan berkembang menjadi gerakan kolektif. Tidak lagi bergantung pada satu pemimpin, tetapi bergerak dalam satu barisan sebagai masyarakat. Kaum pria dan wanita sama-sama memerankan fungsinya di dalam aksi ini secara teratur. Dengan ini, kriminalisasi dan upaya pecah belah antar warga semakin sempit. 

Kesetaraan Gender

Perlawanan Wawonii juga menunjukkan satu sisi lain dari esensi kesetaraan gender. Gerakan sosial bukan hanya ruang bagi laki-laki, tetapi juga bagi kaum perempuan terutama karena sadar akan dampak kesehatan bagi kandungan ketika hidup berdampingan dengan tambang nikel. Kesadaran tersebut menjadi penting untuk mempertahankan hak atas ruang hidup yang sehat, kepercayaan pada nilai-nilai luhur, dan solidaritas diantara warga.

Kisah Wawonii memberikan satu pelajaran penting: gerakan sosial yang bertahan lama tidak hanya dibangun oleh kemarahan terhadap ketidakadilan, tetapi membutuhkan nilai yang diyakini bersama, pengetahuan, regenerasi, konsolidasi, dan kemampuan untuk menjaga gerakan tetap hidup ditengah gempuran berbagai tekanan. Warga Wawonii memperlihatkan bahwa tanah dapat memiliki makna yang jauh lebih berharga dari sekedar nilai ekonomi. Tanah adalah rumah, kebun, sumber kehidupan, ruang budaya, dan berbagai identitas masyarakat. 

Bagi GIM, pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga untuk terus bergerak dari akar rumput, membangun jejaring, mendengarkan masyarakat, serta menjaga agar pengetahuan dan pengalaman perjuangan tidak lenyap begitu saja. Maka, langkah kecil untuk terus memotret kisah sukses perjuangan perlu didokumentasikan agar ia tetap hidup dan mengukuhkan setiap perjuangan berbagai gerakan sosial lainnya.

Wisma
Indonesia Makmur

Alamat

Jl. Sayangan No.5B, Mejing Wetan, Ambarketawang, Kec. Gamping, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta 55599

Email

kontak@indonesiamakmur.org

Pendaftaran Mandiri